Cerita Singkat Gatotkaca Paling Lengkap

Cerita Singkat Gatotkaca Paling Lengkap
(cnnindonesia.com)

Gatotkaca mempunyai benih bawaan unggul kombinasi dari Werkudara dan Arimbi. Sebagai raja muda di Pringgadani, Gatotkaca dalam Wayang Kulit Purwa digambarkan berwujud raksasa, lengkap dengan taringnya. Namun sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, penampilan peraga wayang Gatotkaca dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa diubah menjadi ksatria tampan dan gagah, dengan wajah mirip Werkudara.

Penampilan Gatotkaca yang khas adalah kumisnya yang lebat, sehingga di Jawa seseorang yang berkumis lebat dipuji sebagai ‘keren’ bak Gatotkaca. Banyak nama Gatot di Jawa, karena orang tua sang anak berharap puteranya menjadi pahlawan Nusantara. Di tahun enam puluhan seorang anak yang melakukan sunatan sering diberi pakaian Gatotkaca dengan topi wayang, baju kotang bergambar bintang delapan, memakai badong, semacam hiasan punggung dan tentu saja kumis hitam dari bubuk arang.

Kelahiran Gatotkaca

Kelahiran Gatotkaca menimbulkan kejadian yang menggemparkan. Tali pusarnya tidak dapat diputus dengan berbagai macam senjata keris dan panah. Alkisah Arjuna dan Karna sedang bertapa di tempat berbeda untuk mendapatkan senjata sakti sebagai persiapan perang di kemudian hari. Bathara Narada pembawa karunia senjata panah Kuntawijayadanu pun sulit membedakan kedua satria putra Dewi Kunthi tersebut.

Dewa Surya memberi penerangan kepada tempat Karna bertapa, sehingga Narada memberikan senjata tersebut kepada Karna. Akan tetapi karena dia melihat tersirat semacam ketidakbaikan dalam diri Karna, maka dia hanya memberikan Panahnya, sedangkan Sarungnya diberikan kepada Arjuna yang bertapa di tempat lain.

Dengan berbekal sarung senjata Kuntawijayadanu tersebut, Arjuna memotong tali pusar Gatotkaca, akan tetapi sarung tersebut hilang masuk ke dalam diri Gatotkaca, sehingga Bayi Gatotkaca menjadi sakti.
Setelah dewasa Gatotkaca tidak lupa kepada kebaikan sang paman, Arjuna dan pada hari ke lima belas perang Bharatayuda, dia mengorbankan diri untuk melenyapkan senjata Karna, agar pamannya dapat memenangkan pertarungan.

Setelah tali pusarnya putus, Gatotkaca dibawa Bathara Narada ke kahyangan untuk melawan Raksasa Kala Sakipu dan Kala Pracona. Karena Gatotkaca telah menyatu dengan sarung Kuntawijayadanu, maka Bayi Gatotkaca tidak dapat dibunuh mereka bahkan sempat menggigit mereka sehingga kedua raksasa itu mati.

Oleh Bathara Guru, Gatotkaca diberi tiga karunia. Karunia pertama adalah “Kotang Antakusuma” yang membuat Gatotkaca dapat terbang dengan cepat. Karunia kedua adalah topi bernama “Caping Basunanda”, yang mempunyai kesaktian apabila kena panas tidak terasa panas dan apabila kena hujan tidak menjadi basah. Karunia ketiga, berupa sepatu “Pada Kacarma” yang mempunyai kesaktian tidak akan terkena pengaruh dari suatu tempat.

Gatotkaca Gandrung

Ketika menginjak dewasa Gatotkaca jatuh cinta pada Dewi Pergiwa, puteri dari Arjuna dan adik dari Awerkudaranyu. Gatotkaca adalah seorang tokoh yang tahu balas budi. Karena Arjuna yang dapat memotong tali pusarnya kala dia masih bayi, maka dia selalu menghormati keluarga Arjuna, pamannya sendiri.

Sejak kecil Gatotkaca dirawat Arya Kalabendana, adik ibunya yang paling kecil. Kalabendana yang berwujud raksasa kunthing, cebol mempunyai karakter sangat jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia. Dia sangat mencintai Gatotkaca keponakannya.

Pada suatu hari, Gatotkaca bepergian bersama Awerkudaranyu, sedangkan Dewi Siti Sundari putri Prabu Kresna yang menjadi istri Awerkudaranyu ditinggalkan bersama Arya Kalabendana. Karena perginya berhari-hari tidak kembali, Dewi Siti Sundari meminta Arya Kalabendana mencari mereka.

Dengan membaui keringat keponakannya Gatotkaca, Arya Kalabendana dapat menemukan Awerkudarayu dan Gatotkaca yang sedang berada di kerajaan Wirata. Awerkudaranyu sedang berkasih mesra berselingkuh dengan Dewi Utari. Begitu melihat hal tersebut, Arya Kalabendana berteriak, agar Gatotkaca dan Awerkudaranyu cepat pulang, Dewi Siti Sundari di rumah amat cemas karena mereka belum pulang.

Dewi Utari, paham kalau Awerkudaranyu sudah punya istri, dan sangat kecewa karena telah mengelabui dirinya. Dewi Utari memberikan laknat sumpah bahwa besok dalam perang Bharatayuda Awerkudaranyu akan mati mendapatkan luka arang kranjang, banyak luka bersamaan pada tubuhnya. Gatotkaca marah dan menampar Arya Kalabendana, dan tanpa sadar tangan dengan kesaktian Bajramusti, Vajra Shakti, Tangan Geledeknya langsung mematikan pamannya.

Sebelum meninggal, mata Arya Kalabendana berair, berkata lirih, “Dalam perang Bharatayuda kamu pun akan terbunuh oleh pamanmu sendiri”.

Gatotkaca menyesal, akan tetapi dia menyadari bahwa seserorang yang menanam benih, pada waktunya tentu akan memanen hasilnya. Gatotkaca sadar paman yang dimaksudkan Arya Kalabendana adalah Adipati Karna, putera Eyang Putri Dewi Kunti lain kakek.

Alam kembali menorehkan catatannya, tidak ada hal baru di dunia ini. Catatan lama berulang dengan berganti babak. Delapan ribuan tahun sebelumnya dalam zaman Prabu Arjuna Sasrabahu, Raden Sumantri tanpa sengaja membunuh adiknya Raden Sukrasana yang amat sayang kepadanya, sehingga dia pun mati di tangan Rahwana.

Kali ini, Gatotkaca tanpa sengaja membunuh pamannya yang sangat sayang kepadanya, dan dia pun akan mati dalam perang Bharatayuda oleh Adipati Karna. Bukan secara kebetulan, kalau gambaran Raden Sukrasana dan Arya Kalabendana tidak banyak berbeda, seorang raksasa cebol dengan lidah celat sakti dan penuh kasih sayang. Jangan menyepelekan orang yang berjasa walau bagaimanapun penampilannya.

Pahlawan Perang Bharatayuda

Bagi Raden Gatotkaca, “Bagiku dharmaku adalah sebagai perajurit untuk maju berperang, sanghaku adalah Pandawa, persaudaraan pembela kebenaran, Kendraku, pusat tujuanku adalah Prabu Kresna”.

Dalam perang Baratayuda Gatotkaca diangkat menjadi senapati dan gugur pada hari ke-15 oleh senjata Kuntawijayadanu yang dipanahkan oleh Adipati Karna. Senjata Kuntawijayadanu itu melesat menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam sarungnya yang menyatu di perut Gatotkaca.

Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu akan bahaya yang akan mengancam jiwanya. Dia ingat hutang nyawanya terhadap pamannya yang akan segera dilunasinya. Ketika Adipati Karna memanahkan senjata Kuntawijayadanu, dia terbang amat tinggi. Namun senjata sakti itu terus saja memburunya, bak peluru kendali, seakan dibantu ruh paman Kalabendana yang pernah dizaliminya, sehingga akhirnya Gatotkaca gugur.

Gatotkaca ingat pelajaran dari Kumbakarna yang sebelum matipun perlu memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh epat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Kurawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping dan semua senjata yang berada di dalam keretanya meledak dan membunuh banyak pasukan Kurawa.

Sebenarnya, sewaktu berhadapan dengan Gatotkaca, Adipati Karna enggan menggunakan senjata Kuntawijayadanu. Ia merencanakan hanya akan menggunakan senjata sakti itu bila berhadapan dengan Arjuna. Namun ketika Raja Duryudana menyaksikan betapa Gatotkaca telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan di pihak Kurawa, ia mendesak agar Karna menggunakan senjata pamungkas itu. Hal itu tidak lepas dari strategi Prabu Kresna untuk melenyapkan Senjata Kuntawijayadanu yang hanya dapat digunakan sekali saja, sehingga Arjuna dapat memenangkan pertempuran.

Pada waktu perang Bharatayuda, Gatotkaca sudah mempunyai tingkat spiritual yang tinggi akibat didikan Arimbi dan Werkudara serta ajaran dari Prabu Kresna. Gatotkaca sudah sadar bahwa sebagai abdi, sebagai hamba, yang yakin akan keilahian Prabu Kresna, maka dia wajib patuh terhadap apapun perintah Kendra-nya, Prabu Kresna.

Di Nusantara, Gatotkaca sudah mendapat pelajaran dari ibunya tentang bagaimana Raden Sumantri melakukan bakti kepada seorang PrabuArjuna Sasrabahu titisan Batara Wisnu. Kini dia akan mengulanginya kepada Prabu Kresna, titisan Batara Wisnu juga. Bagi seorang abdi atau hamba hanya ada one pointedness, eka grata, satu fokus sehingga dia bekerja tanpa pamrih pribadi lagi.

Gatotkaca ingat nasehat para leluhurnya di Nusantara yang berpesan bahwa setiap warga harus: “Melu handarbeni, melu hangrungkebi, mulat sariro hangroso wani” terhadap negaranya. Nasehat leluhur tersebut dirumuskan secara resmi oleh Sri Mangkunagara I setelah 5.000 tahun kemudian. Setiap warga harus bertanggung jawab: merasa memiliki, membela dengan penuh pengorbanan, serta mengadakan intropeksi terhadap tindakan bangsanya. Bangsa Indonesia dapat dikatakan mempunyai genetik bawaan Gatotkaca yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam Bhagawad Gita Percakapan Ketiga, Karma Yoga, Prabu Kresna bersabda: “Alam ini memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu, akan dipertimbangkan sebagi seorang pencuri. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan menikmati hasilnya, dengan cara demikian ia terbebaskan dari semua kejahatan. Mereka yang mementingkan diri sendiri, dengan cara demikian mereka memperoleh ketakmurnian”.

Pelajaran Prabu Kresna kepada paman Arjuna tersebut tiba-tiba meresap ke dalam hati Gatotkaca. Aku harus tidak mementingkan diri sendiri, aku putra Werkudara dari Pandawa, aku juga harus tahu balas budi kepada Paman Arjuna yang memotong tali pusarku dan aku harus tunduk kepada Prabu Kresna, titisan Wisnu.