CINTA, SPIRITUAL, DAN BUDAYA POP

CINTA SPIRITUAL DAN BUDAYA POP
(theringer.com)

Pawonkidulan | Melihat situasi kekinian yang serba cepat dan pragmatis, lalu lalang percintaan yang sedemikian instan, produk-produk di pasaran, dan kebudayaan yang serba pop, serta spiritualitas permukaan, alias dangkal, kondisi lingkungan sosial tersebut membentuk watak, karakter, mental, dan figur anak muda pada tataran tertentu pula.

Dalam analisa yang lebih luas, secara umum kondisi itu memunculkan figur anak-anak muda yang kurang mempunyai kemampuan analisa dan malas berpikir (dekadensi, bahkan degradasi cara berpikir), mementingkan proses cinta yang segera bisa berpacaran, mementingan kecantikan atau ketampanan daripada kecocokan dan kualitas hubungan, mudah menikah dan mudah bercerai, mementingkan konsumsi produk-produk di pasaran kepada trennya daripada kebutuhan atau fungsinya.

Begitu pula aktivitas spiritual ataupun religi, lebih kepada keharusan bukan kebutuhan, dan ditekankan kepada keinginan pencapaian keduniawian daripada nirwana. Sikap kepedulian sosial yang minim, kepekaan sosial yang minim, individualitas yang tinggi, akan mengancam karakter kebangsaan dari komunitas akar rumput hingga ke tingkat pemerintahan, bangsa dan negara. Angka kebodohan, kemunafikan, dan kemandhegan akan mudah bertambah sejauh kondisi itu tidak diadakan perbaikan dan perubahan. Kondisi alam, lingkungan, hutan, pertanian, dan udara sudah dipastikan akan semakin terpuruk. Sampah di mana-mana, penyakit akan bertambah banyak, rumah sakit dan sekolahan, bahkan cinta diwarnai nafas penuh komersialitas.

Eksperimen

Perlu dibuka laboratorium pemikiran bersama antara pemberi materi dan peserta. Lintas pikiran tidak satu arah saja, melainkan mencoba untuk membongkar satu per satu, dengan proses pembongkaran, dialog, sharing pemikiran soal bagaimana membangun kemampuan analisa dan berpikir yang kuat. Bagaimana memunculkan individu-individu, dan kelompok yang kreatif plus sensitif. Dengan sensitivitas tertentu, individu dan kelompok dengan sendirinya akan memunculkan program-program sosial (yang penuh cinta).

Spiritual dan material, atau dalam bahasa sains, energi dan massa, menurut teori kesetaraan materi dan energi Einstein adalah satu, tidak bisa dipisahkan. Ketika peradaban manusia modern lebih banyak fokus ke dunia material tidak dibarengi dengan spiritualnya, sudah terbukti dunia material atau alam raya ini menuju kepada kerusakan perlahan-lahan. Sebaliknya pula, aktivitas spiritual adalah kebutuhan daripada kewajiban. Apabila diposisikan sebagai kewajiban, generasi muda kurang bisa merasakan kenikmatan maupun hasil dari aktivitas spiritual tersebut. Dan juga dikarenakan terlalu fokus ke alam material, aktivitas spiritual justru dijadikan pendukung pencapaian kesuksesan material kembali.

Dalam eksperimen tersebut perlu diadakan dialog pembongkaran praktik spiritual sesuai pada porsinya, sebagai satu kesatuan hidup, penyeimbang daripada kehidupan material. Dan juga akan dihelat pembongkaran proses cinta, atau percintaan yang dalam, harmonis, cocok untuk saling memberi dan mendukung kehidupan pasangannya. Percintaan yang muncul dari proses yang alami, tidak dicari, tidak ditunjuk, dan tidak memilih, apalagi merebut. Memfokuskan kepada diri yang aktif, bersosial yang baik, figur yang handal dalam banyak hal, menjadi figur yang menarik, menarik simpati banyak pihak, dan cinta yang sesuai porsinya akan hadir dengan sendirinya. Jangan mengemis cinta, namun tampilkan diri semaksimal mungkin sesuai jalur, fokus, dan porsinya, maka cinta akan mencarimu.

Road Map Eksperimen

Pemberi materi akan menyampaikan dasar pemikiran, dan pencapaian karakter generasi muda yang kuat pada diri seseorang. Diskusi terbuka setiap saat, secara cair dan tidak kaku, dibarengi dengan proyektor, sound, dan komputer online, sehingga setiap saat pemateri bisa membuka contoh-contoh kehidupan di dunia ini, untuk ditarik benang merah dari diskusi-diskusi per topik yang sedang berlangsung. Setelah semua peserta sudah jelas dengan proses pembangunan cinta dan spiritual, sudah jelas dengan topik-topik di dalamnya, kemudian istirahat untuk makan, sembahyang dst.

Masuk ke tahapan kedua, semua peserta diminta menyiapkan diri untuk tampil di muka publik, menyiapkan satu bentuk tampilan apapun, baik presentasi tulisan pendek dia terbaru, cerpen, puisi, tampil menyanyikan lagu, menari, pidato, bercerita, menyampaikan ide-ide soal cinta yang sejati, atau spiritual apapun yang mampu ditampilkan, dengan bentukan karakter baru yang kuat, yang percaya diri, cerdas, dengan intonasi suara yang lantang, pasti, jelas, simpatik, menarik perhatian, ditampilkan dengan gaya yang khas dan menguasai ruangan.

Kemudian akhir dari acara, penampilan satu per satu dari peserta. Dengan eksperimen ini diharapkan para peserta menjadi figur-figur yang lebih baru, lebih berguna, lebih percaya diri, lebih bersikap, lebih bermental baja, berjiwa luhur, dan berhati bersih. Figur-figur yang menjadi penggerak, figur-figur yang selalu diharapkan kehadirannya, ide-idenya, bantuannya, figur-figur yang menyelesaikan banyak masalah, dan membangunkan banyak individu-individu yang tertidur atau tersesat, untuk diajak bersama membangun dunia baru yang lebih baik, menyelamatkan planet dan makhluk-makhluknya, karena kepercayaan, atau agama bisa ada banyak, ras dan suku bisa beribu-ribu, bisnis, kepentingan, ideologi bisa ratusan, namun planet bumi hanya satu.

Dalam menyongsong peradaban baru di masa depan, semua menjadi satu manajemen, satu sistem terhubung, satu pasar terhubung, satu lingkungan hidup menyatu, dan figur-figur yang berkarakter kuatlah yang mampu mendukung kesatuan bumi itu menjadi lebih baik untuk semua, tanpa diskriminasi, dan penuh cinta.