Percakapan Bahasa Jawa Krama Alus dan Artinya

Percakapan Bahasa Jawa Krama Alus dan Artinya
(preply.com)

Pawonkidulan | Percakapan Bahasa Jawa, khususnya Bahasa Jawa Krama Alus digunakan untuk pergaulan di masyarakat, dimana tujuannya untuk menghargai orang diajak bicara.

Menurut S. Padmosoekotjo, Bahasa Krama atau Bahasa Jawa Halus dibagi menjadi 3, yaitu: Mudha Krama, Kramantara, Wredha Krama.

  1. Mudha Krama adalah Bahasa Jawa Krama yang digunakan oleh anak muda kepada orang tua.
  2. Kramantara adalah Bahasa Jawa Halus untuk orang yang derajatnya sama.
  3. Wredha Krama adalah Bahasa Jawa Krama orang tua kepada anak muda. Penggunaan Wredha Krama: meskipun usianya lebih tua tapi merasa perlu menghargai orang yang lebih muda karena pangkat atau derajatnya yang lebih tinggi.

Dalam pergaulan sehari-hari, sekarang jarang atau hampir tidak pernah terdengar penggunaan Kramantara dan Wredha Krama. Lebih-lebih di wilayah pesisir dan pinggiran. Masyarakat di wilayah tersebut tidak dapat memberdakan antara Kramantara, Mudha Krama dan Wredha Krama.

Di zaman sekarang, meskipun usianya lebih tua, tapi banyak yang tidak kesulitan menggunakan Basa Mudha Krama. Maka alangkah lebih baik mempelajari Basa Mudha Krama ini, dan untuk selanjutnya macam bahasa ini disebut sebagai Bahasa Krama.

Ciri-Ciri Percakapan Bahasa Jawa Halus:

  1. Kata ganti orang pertama: kata “aku” menjadi kula atau kawula. Yang kerap dan lumrah terdengar adalah dalem. Padahal sesungguhnya dalem itu artinya -mu atau kamu.
  2. Kata ganti orang kedua: kata kowe menjadi panjenengan.
  3. Kata ganti orang ketiga: kata dheweke menjadi panjenenganipun atau piyambakipun.
  4. Awalan di- menjadi dipun.
  5. Akhiran -ake menjadi -aken.
  6. Akhiran -e menjadi -ipun.
  7. Kata-kata Bahasa Jawa Krama semuanya bercampur dengan kata-kata dari Basa Jawa Krama Inggil untuk orang yang diajak bicara dan menggunakan kata-kata Basa Jawa Krama Andhap untuk orang mengajak bicara.

Dikuti dari kepustakaan Jawa karangan Prof. Dr. M. Ng. Poerbatjaraka tentang Basa Krama:

Ciri-Ciri Percakapan Bahasa Jawa Halus
(goodnewsnetwork.org)

Penelitan Kepustakaan Jawa

Yang disebut sebagai kepustakaan Jawa adalah seluruh serat-serat cerita, dongeng, mitos, babad, yang menggunakan Bahasa Jawa. Adapun, berdasar ilmu Lingustik Historis Komparatif, Bahasa Jawa termasuk ke dalam Bahasa Austronesia; yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa-bangsa yang bertempat tinggal di Asia Tenggara. Batas utaranya adalah pulau Formosa ke selatan, batas baratnya adalah Madagaskar hingga ke Amerika Selatan sebelah barat.

Walaupun nama Austronesia jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, Austronesia ini bisa disebut sebagai bangsa Nusantara.

Di tahun 1884, DR Brandes mampu menjelaskan bahwa bangsa-bangsa Austronesia merupakan sebuah bangsa kuno, yang berbahasa satu. Pernyataan ini didasarkan pada perbandingan bahasanya.

Kemudian di tahun 1889, Dr H. Kern mengkaji lagi terkait perbandingan dan sejarah bahasa, hingga mampu menjelaskan asal-usul bangsa Nusantara dikala masih menggunakan satu bahasa, yaitu di negara Champa (Kamboja), yang sekarang disebut sebagai wilayah Indocina.

Lalu dari kajian P.W. Schmidt dapat diperkirakan bahwa asal-usul bangsa Nusantara sudah sangat panjang (kuno). Menurutnya bangsa Nusantara berasal dari wilayah Asia Tengah. Tapi hal itu masih belum jelas.

Dari beberapa pendapat ahli, dapat dikatakan bahwa bangsa Nusantara dulunya pernah berkumpul dalam satu wilayah, yaitu di Champa (Kamboja). Pernyataan ini tidak hanya berdasarkan analisa dari perbandingan bahasa saja, hasil kajian dari DR Van Stein Callenfels, DR Van Der Hoop dkk, juga menunjukkan bahwa awal mula bangsa Nusantara berada di wilayah Kamboja sisi selatan.

Pada suatu masa di tahun 1500 Sebelum Masehi, bangsa Nusantara tadi mulai tersebar ke berbagai pulau. Penyebab tersebarnya para penduduk masih belum terjelaskan. Tapi ada yang menyebutkan karena terdesak oleh kedatangan bangsa lain yang datang dari utara dan barat.

Setelah berpencar, para penduduk tadi bertempat di pulau-pulau yang masih baru. Karena berpisah tempat, lama-kelamaan para penduduk tadi tidak paham/mengerti bahasa penduduk lainnya. Karena perpisahan itu, menyebabkan tumbuh bahasa masing-masing.

Bahasa Nusantara yang ada di tanah Malaysia menjadi Bahasa Malaysia, yang ada di tanah Jawa menjadi Bahasa Jawa, Sunda, dan Madura, begitu seterusnya.

Lalu bagaimana karakter Bahasa Jawa sebelum kedatangan agama Hindu? Sayangnya hingga saat ini belum ada titik cerahnya. Banyak yang memperkirakan pada masa itu bangsa Jawa belum memiliki aksara.

Meskipun aksara Jawa sekarang sudah jarang digunakan, di zaman dulu aksara itu dibawa oleh pemeluk agama Hindu yang datang ke tanah Jawa di sekitar awal-awal tahun Masehi. Aksara Hindu di tanah Jawa hanya dipergunakan untuk kegiatan tulis menulis orang Hindu, seperti surat perdagangan untuk bangsanya sendiri, dsb.

Sedangkan yang digunakan oleh penduduk lainnya adalah Bahasa Sanskerta. Tapi penjelasan tadi belum cukup kuat. Karena sumber informasinya masih sangat sedikit. Tapi yang diketahui sekarang adalah Bahasa Sanskerta merupakan bahasa tertua.

Kemudian bangsa Hindu pun menjalin ikatan pernikahan dengan orang Jawa, kemudian beranak pinak. Bahasa yang digunakan lama-lama tercampur, Bahasa Jawa dengan Bahasa Sanskerta. Lalu para pranakan ini melakukan kretivitas dengan menggabungkan atau melakukan kombinasi antara bahasa dan aksara Hindu dengan Bahasa Jawa. Hingga akhirnya aksara Hindu dapat digunakan untuk menulis Bahasa Jawa.

Bangsa Hindu yang datang ke tanah Jawa adalah pemeluk Siwa. Selang beberapa abad kemudian, Bangsa Hindu yang datang ke tanah Jawa adalah pemeluk Buddha Mahayana.

Kedua golongan bangsa Hindu tadi membawa pengaruh keilmuan yang besar untuk bangsa Jawa. Aksara Sanskerta menjadi aksara utama bangsa Jawa meskipun yang digunakan adalah Bahasa Jawa yang tercampur Sanskerta.

Contoh-contoh hasil karya percampuran budaya tadi dapat dilihat dari serat-serat yang dihasilkan, seperti Mahabarata dan Ramayana. Di zaman itu Bahasa Jawa dikenal sebagai Bahasa Jawa Kuna.

Keterkaitannya dengan Bahasa Jawa adalah dalam serat-serat tersebut juga disebut sebagai Bahasa Kawi. Tapi para akademisi bangsa Belanda menyebutnya sebagai Bahasa Jawa Kuna.

Ketika Bahasa Jawa Kuna mulai digunakan, sudah tercampur kata-kata Sanskerta dengan jumlah cukup banyak. Kemudian banyak bangsa yang datang ke tanah Jawa, seperti Arab, Belanda, Inggris, dan Jepang.

Oleh sebab itu percakapan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari mendapat banyak kata-kata serapan dari bangsa Asing. Terlebih setelah bangsa Indonesia terbentuk. Banyak kata-kata dalam Bahasa Jawa yang mendapat serapan dari Bahasa Melayu.

Tapi memang itulah habitus bahasa, dimana bahasa itu sendiri bersifat dinamis dan akan selalu berkembang. Kini Bahasa Jawa terbaru disebut dengan Bahasa Jawa Modern. Tapi tidak menutup kemungkinan jika di kemudian hari akan muncul periodesasi baru untuk jenis Basa Jawa atau Basa Krama.

Kini dengan adanya Kromo Inggil, Ngoko Alus, bangsa Jawa salah satu bangsa yang memiliki kekayaan bahasa yang variatif. Tentunya bahasa-bahasa ini harus terus dilestarikan dengan tidak menutup diri pada perkembangan lokal maupun global.

Bahasa Jawa Krama Alus dan Artinya

Kini banyak sekali kamus Bahasa Jawa Halus, kamus Bahasa Jawa Krama, Kamus Jawa Halus, Kamus Krama Inggil, Kamus Bahasa Jawa Krama Alus, Kamus Bahasa Jawa online yang dapat diakses di internet. Sehingga generasi muda Jawa setidaknya mampu untuk berbicara Bahasa Krama dalam percakapan Bahasa Jawa, sehingga unggah-ungguh basa masih terjaga.