Peribahasa Jawa Paling Lengkap dan Komplit

Peribahasa Jawa Lengkap
(rbth.com)

Pawonkidulan | Peribahasa Jawa merupakan ungkapan atau ekspresi masyarakat Jawa yang menggunakan simbol-simbol tertentu. Hal ini bertujuan untuk memperindah ataupun melebih-lebihkan makna yang dimaksud.

Berikut merupakan contoh-contoh dari peribahasa Jawa yang telah dihimpun.

Adedamar tanggal pisan kapurnaman = Seseorang yang menggugat/menuntut di pengadilan, hingga proses selesai. Meskipun orang tersebut merasa kasihan pada orang yang diperkarakan.

Adol lenga kari busike = Orang yang senang berbagi, tetapi ia sendiri tidak kebagian.

Adus kringet = Orang yang sudah bekerja keras.

Ambalung usus = Orang yang keinginannya tarik ulur, alias tidak memiliki prinsip.

Ambondhan tanpa ratu = Orang yang tidak mengakui pemerintahan (anarko).

Ambuntut arit = Dialog/diskusi yang pada awalnya gampang, berubah menjadi rumit.

Ambidhung api rowang = Orang yang berniat mengganggu orang lain, tapi berpura-pura dengan menjadi teman.

Ambeguguk angutha waton = Orang yang sengaja tidak menuruti perintah.

Dom sumuruping banyu = Mata-mata yang sangat berhati-hati di daerah musuh.

Dudutan lan anculan = Dua orang bersekongkol, tapi yang satu seolah-olah tidak tahu.

Dudu berase ditempurake = Ikut nimbrung masalah/perkara yang bukan masalahnya.

Gajah marani wantilan = Orang yang secara sengaja menghampiri bahaya.

Gajah ngidak rapah = Orang yang melanggar aturannya sendiri.

Gambret singgang mrekatak ora ana sing ngundhuhi = Gadis perempuan yang pintar, tapi sudah ada yang menjadi suaminya.

Garang nanging garing = Orang yang kehidupannya tampak mewah, tapi sejatinya melarat. (Kelihatan kaya tapi sebenarnya orang yang tak punya)

Ngontragake gunung = Seseorang yang bisa mengalahkan musuh yang lebih kuat dan kuasa, sehingga membuat banyak orang terkejut.

Nglungguhi klasa gumelar = Orang yang tinggal menerima enaknya, tanpa ikut susahnya.

Tigan kaapit ing sela = Orang lemah yang dimusuhi dua orang/lebih, dan lebih kuat dan kuasa.