Rura Basa Bahasa Jawa Lumrah?

Rura Basa Bahasa Jawa
(www0.sun.ac.za)

Pawonkidulan | Rura atau kata bakunya adalah rurah memiliki makna rusak. Jadi rura basa artinya bahasa yang rusak (salah kaprah). Tapi, meskipun rusak kalau dibetulkan justru menjadi aneh dan tidak umum/wajar.

Contoh: nggodhog wedang (memasak air matang). Ungkapan itu salah. Karena wedang bermakna air yang sudah matang/masak. Sedangkan nggodhog adalah merebus. Jadi nggodhog wedang adalah merebus air yang sudak matang. Ungkapan yang benar harusnya adalah nggodhog banyu. Tapi jika dibetulkan menjadi nggodhog banyu justru menjadi tidak umum. Karena itu, meskipun salah tapi sudah dianggap lumrah, lalu dianggap betul.

Contoh Rura Basa Lainnya:

  1. Nutu beras.
  2. Menek klapa.
  3. Ndheplok glepung.
  4. Mikul dhawet.
  5. Nguleg sambel
  6. Ndondomi clana.
  7. Ndheplok gethuk.
  8. Ngenam klasa.
  9. Mbunteli tempe.
  10. Adang sega.
  11. Mbathik iket.

Contoh percakapan sehari-hari:

Mbakyu Rofikoh: “Mas, penekna klapa mburi omah kuwi. Arep njangan lodeh kok ora nduwe klapa!” (Mas, ambilin kelapa di belakang rumah itu. Mau bikin sayur lodeh kok nggak pakai kelapa!)
Kang Sueb: “Lha apa bisa ta Koh, Rofikoh? Lha klapa kok dipenek.” (Lha apa bisa? Buah kelapa kok dipanjat.)
Mbakyu Rofikoh: “Ya mesthi wae ora bisa. Sing panjenengan penek kuwi wit klapa, dudu klapane.” (Ya pasti nggak bisa. Yang Mas panjat itu ya pohonnya, bukan buah kelapanya.)

Jika menggunakan nalar, istilah menek klapa (manjat kelapa) itu salah, yang benar adalah menek wit klapa (manjat pohon kelapa). Tapi di percakapan sehari-hari, yang kerap digunakan adalah menek klapa dibandingkan dengan menek wit klapa. Ungkapan menek klapa dianggap benar meskipun menurut logika dan ilmu bahasa salah.

Masih banyak contoh yang dapat dilihat pada percakapan sehari-hari masyarakat Jawa. Bukan berarti masyarakat membiarkan kesalahan berbahasa begitu saja. Hanya saja, kebijaksanaan harus lebih diutamakan.

Dalam ilmu bahasa, pemahaman tentang hal ini harus dimengerti sepenuhnya. Tapi tak lantas para akademisi menyalahkan masyarakat secara kaku dan keras. Edukasi dan sosialisasi adalah jalan yang harus diambil oleh para ilmuwan bahasa, supaya bahasa yang salah kaprah ini dapat dibetulkan dan generasi berikutnya dapat berbahasa Jawa secara baik dan benar.