Tembung Entar pada Tembung Camboran

Link download akan muncul dalam detik

Pawonkidulan | Tembung entar dalam tembung camboran memang ada. Tapi sebelumnya perlu diketahui pengertian dari cambor. Cambor bermakna mencampur. Dalam ilmu bahasa disebut sebagai komposisi.


Komposisi atau nyambor adalah proses morfologis yang membuat gabungan leksem menjadi satu kata, yang disebut sebagai tembung camboran. Contohnya, leksem lare dengan leksem angon bisa dikomposisi menjadi tembung camboran menggunakan proses morfologis komposisi menjadi lareangon. Contoh lainnya adalah leksem mara dan leksem tuwa bisa digabung menggunakan proses morfologis komposisi menjadi maratuwa.


Berdasarkan contoh-contoh di atas, maka ada perbedaan antara kumpulan kata (frasa), seperti jaka tuwa dan tembung camboran maratuwa, bocah angon dengan tembung camboran lareangon. Meski dalam contohnya selalu digabung, tapi proses morfologis komposisi wujudnya bisa merdeka (bebas, penulisannya dipisah), tapi juga menyatu (terikat, penulisannya disambung).

Contoh tembung camboran yang merdeka (bebas) adalah anak bojo, antem krama, balung gajah, balung peking, bedhah bumi, cacah jiwa, candra sengkala, caruk banyu, gebyah uyah, gunggung kepruk, gugur gunung, gunung wesi, jaran goyang, jaka lara, kadang katut, kebo bingung, kembang setaman, kembang telon, kembang duren, kembang gula, kuping gajah, lambe sumur, lambe gajah, mata pita, maling cluring, panjang ilang, sangkal putung, randha royal, raja brana, raja kaya, sabuk galeng, saka guru, saur manuk, sisik melik, telik sandi, tutup keyong, wedhak pupur, dan sebagainya.


Kemudian ada tembung saroja. Dalam kesusastraan Jawa, tembung saroja adalah dua kata yang sama atau hampir sama maknanya, dan digunakan bersamaan. Dalam ilmu morfologi tembung saroja termasuk dalam kategori tembung camboran, contohnya: ajur ajer, arum wangi, amrik wangi, babak belur, babak bundhas, bale somah, benceng cuweng, bibit kawit, bodho balilu, bongkot pucuk, candhak kulak, empan papan, gagah prakosa, galap gangsul, gunggung kumpul, gugon tuhon, japa mantra, kadang kadeyan, kongas ngambar, laki rabi, mandheg mangu, malang megung, mudha dama, mudha punggung, mula buka, salang surup, sekti mandraguna, sisip sembir, terang trawaca, tumpang tindhih, utang selang, wor suh, dan sebagainya.
Lalu ada tembung camboran yang mempunyai makna hiperbola, contohnya seperti: abang mbranang, adoh nglangut, ajur mumur, biru kecu, bunder kepleng, cedhak nyangklek, cilik menthik, dawa nglawer, ijo royo-royo, ireng thuntheng, kecut silu, legi anglek, munyer seser, padhang njingglang, pait nyethak, peteng ndhedhet, putih memplak, remuk rempu, remuk bubuk, total jendral, dan sebagainya.


Tembung camboran yang terikat contohnya seperti: adibusana, adikuwasa, adisarira, adigang, adigung, adiguna, arkasuta, asthagina, asthabrata, bimasekti, dasamuka, dasasirsa, dasawaktra, dwiwarna, dwitunggal, dursila, durjana, duratmaka, gubugpenceng, kalamenjing, kalalupa, kalabang, lanjarngirim, nagasari, nagadina, nindyamantri, pancasila, pancatantra, pancandriya, pancawara, partasuta, senapati, sujana, susila, sujanma, suryaputra, triloka, tribawana, triprakara, udanriris, dan sebagainya.


Tembung Entar


Tembung entar adalah kata yang mempunyai makna bukan sebenarnya (kiasan). Contohnya adalah gedhe endhase, cupet nalare, lobok atine, dsb. Tapi ada beda antara Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia dalam implementasi kata kiasan. Jika di Bahasa Indonesia, unsur yang digunakan adalah leksem, sedangkan pada Bahasa Jawa yang digunakan adalah kata. Berikut contohnya:

  • kecil hati = cilik atine
  • besar kepala = gedhe endhase
  • ringan tangan = entheng baune
  • keras hati = kenceng atine
  • besar hati = gedhe atine
  • panjang tangan = dawa tangane

Ada juga tembung camboran yang diserap dari Bahasa Indonesia, seperti tunawisma, tunasusila, tunarungu, tunagrahita, tunakarya, pascasarjana, pascaperang, pascatsunami, nonblok, nonpartai, nonbaku, narapidana, narasumber, purnawira, purnatugas, dan sebagainya.


Pengertian Tembung Camboran


Tembung camboran secara sederhananya adalah dua kata atau lebih yang digabung menjadi satu, tetap strukturnya (memiliki struktur yang konstan) yang memunculkan makna baru.


Contohnya adalah nagasari. Naga merupakan hewan mitologi yang wujudnya seperi ular raksasa yang biasanya ada dalam dongeng atau mitos. Sedangkan sari bermakna inti. Jika dua kata tadi digabung, maka akan memiliki makna baru, nagasari adalah sejenis makanan.


Ciri-Ciri Tembung Camboran


Dalam Bahasa Jawa, tembung camboran atau kata majemuk memiliki ciri-ciri:


  1. Tidak dapat disisipi kata lain.
  2. Dalam tiap unsur, kata gabungannya tidak dapat diimbuhi kecuali keduanya beriringan.
  3. Tidak dapat dibolak-blaik.
  4. Mempunyai makna baru.
  5. Umumnya terjadi dari gabungan kata dasar.

Berdasarkan penulisannya, tembung camboran dibedakan menjadi:


Tembung Camboran Manunggal


Tembung camboran manunggal atau kata majemuk senyawa adalah kata majemuk yang penulisannya disambung, tidak dipisah. Contohnya:


  • bimasekti (nama galaksi)
  • gambiranom (nama tarian)
  • gambirsawit (nama gendhing/lagu)
  • jakabelek (nama planet, Mars)
  • kalamenjing (jakun)
  • kalamunyeng (nama keris)
  • maratuwa (orang tua dari suami/istri)
  • nagadina (nama hitungan hari Jawa)
  • nagasari (nama makanan)
  • nagasasra (nama keris)
  • sabukinten (nama keris)
  • udanriris (nama bathik)

Tembung Camboran Tan Manunggal


Kata majemuk tak senyawa atau tembung camboran tan manunggal adalah kata majemuk yang penulisannya dipisah. Contohnya:


  • angkat junjung (maknanya kuli tukang angkut barang, juga termasuk tembung saroja)
  • anteng kitiran (senantiasa bergerak, termasuk sanepan) **)
  • bening leri (keruh banget, termasuk sanepan) *)
  • beras wutah (nama bunga)
  • bubur lemu (nama makanan)
  • candhak kulak (maknanya dagangan laris, juga termasuk tembung saroja)
  • dawa tangane (suka mencuri, termasuk tembung entar)
  • gedhe endhase (sombong, termasuk tembung entar)
  • griya sakit (tempat untuk merawat orang sakit)
  • idu geni (kata-katanya bertuah, omongannya pasti terwujud)
  • jaga satru (pagar yang melingkari pekarangan)
  • jenang sengkala (bubur untuk ritual menolak marabahaya)
  • kembang bayang (orang sakit yang cuma bisa tiduran, tidak sembuh-sembuh)
  • kembang gula (permen)
  • kembang gundha (arang dari lampu minyak)
  • kembang lambe (jadi bahan omongan, termasuk tembung entar)
  • kembang paes (bunga yang muncul pertama kali di pohon, umunya tidak berbuah)
  • kodhok ngorek (nama gendhing/lagu)
  • laler mencok (jenis kumis, mirip kumisnya Hitler)
  • landhep pikire (pintar, termasuk tembung entar) *)
  • lare angon (nama ular)
  • lawang ijo (penjara)
  • lonjong botor (kencang banget, termasuk sanepan) **)
  • lonjong mimis (kecang banget, termasuk sanepan ) **)
  • mata iwak (lingkaran-lingkaran kecil yang ada di balon ketika ditiup, nggak mulus)
  • ngeger sapi (kondisi yang rata dan rendah seperti jalan)
  • raja lele (nama padi)
  • randha kuning (jenis sawah yang tidak dapat ditanami)
  • randha mopol (nama rumput)
  • randha royal (nama makanan)
  • randha teles (janda kaya)
  • semar mendem (nama makanan)
  • sendhal pancing (geraknya leher dan kepala saat menari)
  • tata krama (sopan santun)
  • tutup keyong (nama jenis bangunan)
  • untu walang (lancip, seperti mata gergaji)
  • wong tuwa (artinya bapak ibu)

Keterangan:


  • *) Seluruh tembung entar termasuk kata majemuk,
  • **) Seluruh sanepan termasuk kata majemuk. Sanepan adalah ungkapan seperti peribahasa yang memiliki makna sebaliknya.

Berdasarkan wujudnya, tembung camboran dibedakan menjadi:


  1. Camboran Wutuh: terbentuk dari kata-kata yang utuh. Seperti nagasari, semar mendem, jaga satru.
  2. Camboran Tugel: terbentuk dari unsur atau bagian kata. Contohnya: dubang = idu (ludah) + abang (merah) (ludahnya orang yang sedang makan buah kinang dan sirih).