Unggah-Ungguh Basa Jawa Lengkap

Unggah-Ungguh Basa Jawa Lengkap
(smparrafidrajat.sch.id)

Pawonkidulan | Dalam kehidupan bermasyarakat, terutama di Jawa kerap terdengar istilah unggah-ungguh basa. Makna dan arti dari unggah-ungguh adalah sopan santun atau tata krama.

Masyarakat Jawa saat ini banyak yang menganggap kalau anak muda sudah tidak memiliki unggah-ungguh lagi. Sebenarnya ini merupakan hal yang dapat dipahami, mengingat segala sesuatunya mesti cepat. Karena harus memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga filosofi yang dipegang adalah cepet-cepet angger slamet (biar cepat asal selamat).

Berbeda dengan filosofi yang dipegang oleh masyarakat zaman dulu, yaitu nguler kambang, alon-alon maton kelakon (biar lambat asal selamat).

Seiring bergantinya waktu dan zaman, pasti ada kondisi yang berubah. Karena peradaban yang berkembang atau disebabkan oleh majunya teknologi yang menyebabkan perubahan besar-besaran.

Apa itu perubahan sikap, etika, atau unggah-ungguh basa?

Contoh paling gampang seperti di Pemerintahan. Dulu ibukota negara ada di Ngayogyakarta Hadiningrat, sekarang berada di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Bahkan sudah ada pengumuman bahwa ibukota akan dipindah ke pulau Kalimantan.

Kondisi-kondisi seperti contoh di atas, ataupun faktor lainnya, menyebabkan perubahan juga, terutama untuk Bahasa Jawa. Bahasa Jawa dulu merupakan bahasa resmi pemerintahan ketika masih di zaman Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat. Tapi sekarang bahasa pemerintahan digantikan oleh bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia.

Selain itu, untuk saat ini justru banyak orang Jawa yang enggan menggunakan Bahasa Jawa lagi, meskipun asalnya dari Jawa. Kondisi ini menyebabkan popularitas Bahasa Jawa mengalami penurunan penggunaan, bahkan bisa saja “punah” seperti yang dialami oleh Bahasa Jawa Kuna. Sebab di zaman sekarang Bahasa Jawa Kuna sudah tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Banyak orang Jawa yang sudah tidak memahami Bahasa Jawa lagi. Kalaupun tahu ya bahasa yang apa adanya (ngoko), istilahnya ngoko aja belum bener, apalagi bahasa yang ndakik-ndakik.

Bahasa Jawa zaman sekarang sudah berubah. Tidak seperti Bahasa Jawa di zaman Bapak Anton Suhono, S. Padmosukoco, R. Ng Poerbatjaraka dan lain-lainnya. Saat era itu, Bahasa Jawa dibagi menjadi:

  1. Basa Ngoko (Bahasa Jawa Ngoko). Basa Ngoko masih dibagi lagi menjadi Basa Ngoko Lugu dan Basa Ngoko Andhap.
  2. Basa Madya (Bahasa Jawa Madya). Basa Madya masih dibagi menjadi Basa Madya Ngoko, Madya Krama, dan Madyantara.
  3. Basa Krama (Bahasa Jawa Krama). Basa Krama masih dibagi menjadi Mudhakrama, Madya Krama, dan Wredhakrama.
  4. Basa Krama Inggil (Bahasa Jawa Krama Inggil).
  5. Basa Bagongan (Bahasa Bagongan) atau bahasa yang digunakan oleh penghuni Kraton.
  6. Krama Desa (Bahasa Jawa Pedesaan) dimana kata-katanya banyak ditemukan di wilayah pedesaan.

Zaman sekarang banyak orang desa yang menjadi pengusaha atau pejabat di Jakarta, sedangkan orang yang dulu merupakan bangsawan dari Kraton Surakarta atau Ngayogyakarta menjadi pejabat biasa. Bahkan sering para tetangga tidak tahu jika tetangganya termasuk bangsawan.

Seperti peribahasa yang ada di dalam tembang Dhandhanggula, yang termuat dalam buku “Ngengrengan Kasusastran Jawi” ciptaan S. Padmosukoco. Peribahasanya adalah tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati, temah nampa papan kang nistha.